
Kepercayaan Bugis Kuno Sebelum Mengenal Islam Sebelum
masyarakat bugis mengenal islam mereka sudah mempunyai “kepercayaan
asli” (ancestor belief) dan menyebut Tuhan dengan sebutan ‘Dewata
SeuwaE’, yang berarti Tuhan kita yang satu. Bahasa yang digunakan untuk
menyebut nama ‘Tuhan’ itu menunjukkan bahwa orang Bugis memiliki
kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa secara monoteistis. Menurut
Mattulada, religi orang Bugis masa Pra-Islam seperti tergambar dalam
Sure’ La Galigo, sejak awal telah memiliki suatu kepercayaan kepada
suatu Dewa (Tuhan) yang tunggal, yang disebut dengan beberapa nama :
PatotoE (Dia yang menentukan Nasib), Dewata SeuwaE (Dewa yang tunggal),
To-Palanroe (sang pencipta) dan lain-lain.
Kepercayaan dengan
konsep dewa tertinggi To-Palanroe atau PatotoE, diyakini pula mempunyai
anggota keluarga dewata lain dengan beragam tugas. Untuk memuja
dewa–dewa ini tidak bisa langsung, melainkan lewat dewa pembantunya.
Konsep deisme ini disebut dalam attoriolong, yang secara harfiah berarti
mengikuti tata cara leluhur. Lewat atturiolong juga diwariskan
petunjuk–petunjuk normatif dalam kehidupan bermasyarakat. Raja atau
penguasa seluruh negeri Bugis mengklaim dirinya mempunyai garis
keturunan dengan Dewa–dewa ini melalui Tomanurung (orang yang dianggap
turun dari langit/kayangan), yang menjadi penguasa pertama seluruh
dinasti kerajaan yang ada. (Kambie, 2003).
Istilah Dewata SeuwaE
itu dalam aksara lontara, dibaca dengan berbagai macam ucapan, misalnya
: Dewata, Dewangta, dan Dewatangna yang mana mencerminkan sifat dan
esensi Tuhan dalam pandangan teologi orang Bugis. De’watangna berarti
“yang tidak punya wujud”, “De’watangna” atau “De’batang” berarti yang
tidak bertubuh atau yang tidak mempunyai wujud. De’ artinya tidak,
sedangkan watang (batang) berarti tubuh atau wujud. “Naiyya Dewata
SeuwaE Tekkeinnang”, artinya “Adapun Tuhan Yang Maha Esa itu tidak
beribu dan tidak berayah”. Sedang dalam Lontara Sangkuru’ Patau’
Mulajaji sering juga digunakan istilah “Puang SeuwaE To PalanroE”, yaitu
Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta. Istilah lain, “Puang MappancajiE”.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Konsep “Dewata SeuwaE”
merupakan nama Tuhan yang dikenal etnik Bugis–Makassar. (Abidin, 1979 :
12 dan 59).
Kepercayaan orang Bugis kepada “Dewata SeuwaE” dan
“PatotoE” serta kepercayaan “Patuntung” orang Makassar sampai saat ini
masih ada saja bekas-bekasnya dalam bentuk tradisi dan upacara adat.
Kedua kepercayaan asli tersebut mempunyai konsep tentang alam semesta
yang diyakini oleh masyarakat pendukungnya terdiri atas tiga dunia,
yaitu dunia atas (boting langi), dunia tengah (lino atau ale kawa) yang
didiami manusia, dan dunia bawah (peretiwi). Tiap-tiap dunia mempunyai
penghuni masing-masing yang satu sama lain saling mempengaruhi dan
pengaruh itu berakibat pula terhadap kelangsungan kehidupan manusia.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang kepercayaan Patuntung, lihat :
Martin Rossler, “Striving for Modesty : Fundamentals of The Religion and
Social Organization of The Makassarese Patuntung”, dalam BKI deel 146 2
en 3 en aflevering, 1990 : 289 – 324 dan WA Penard, “De Patoentoeng”
dalam TBG deel LV, 1913 : 515 – 54.
Gervaise dalam “Description
Historique du Royaume de Macacar” sebagaimana dikutip Pelras (1981 :
168) memberikan uraian tentang agama tua di Makassar. Menurut Gervaise
orang-orang Makassar zaman dahulu menyembah Dewa Matahari dan Dewa Bulan
yang disembah pada waktu terbit dan terbenamnya Matahari atau pada
saat Bulan tampak pada malam hari. Mereka tidak mempunyai rumah suci
atau kuil. Upacara sembahyang dan Kurban–kurban (Bugis : karoba)
khususnya diadakan di tempat terbuka. Matahari dan Bulan diberi
kedudukan yang penting pada hari-hari “kurban” (esso akkarobang) yang
selalu ditetapkan pada waktu Bulan Purnama dan pada waktu Bulan mati,
karena itu pada beberapa tempat yang sesuai disimpan lambang-lambang
Matahari dan Bulan. Tempat ini dibuat dari tembikar, tembaga, bahkan
juga dari emas (Pelras, 1981 : 169).
Selain menganggap Matahari
dan Bulan itu sebagai Dewa, orang Bugis Makassar pra-Islam juga
melakukan pemujaan terhadap kalompoang atau arajang. Kata “Arajang”
bagi orang Bugis atau “Kalompoang” atau “Gaukang” bagi orang Makassar
berarti kebesaran. Yang dimaksudkan ialah benda-benda yang dianggap
sakti, keramat dan memiliki nilai magis. Benda-benda tersebut adalah
milik raja yang berkuasa atau yang memerintah dalam negeri. Benda-benda
tersebut berwujud tombak, keris, badik, perisai, payung, patung dari
emas dan perak, kalung, piring, jala ikan, gulungan rambut, dan lain
sebagainya. (Martinus Nijhoff, 1929, 365-366). _________________________________________________________ KEPERCAYAAN BUGIS ANTARA ISLAM DAN TO LOTANG Rasanya,
hampir semua orang bila mendengar nama bugis pikirannya langsung
tertuju pada salah satu makanan khas Indonesia berbahan dasar tepung
ketan dengan isian kelapa dan gula di dalamnya. Namun, Bugis juga
merupakan nama sebuah suku yang ada di Indonesia.
Suku Bugis
adalah masyarakat asli dari Provinsi Sulawesi Selatan. Jumlah masyarakat
suku Bugis di tahun 2000 mencapai angka enam juta jiwa. Suku Bugis
tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan, seperti Kabupaten
Luwu, Bone, Wajo, Pinrang, Barru, dan Sidrap. Salah satu ciri khasnya
adalah sistem kepercayaan suku Bugis.
Sistem Kepercayaan Agama Islam
Masyarakat
suku Bugis dengan segala kebudayaan dan adat istiadat juga memiliki
sistem kepercayaan. Kepercayaan suku Bugis yang banyak dianut sejak abad
ke-17 adalah Islam. Islam dibawa oleh para pesyiar dari daerah
Minangkabau.
Para pesyiar tersebut membagi wilayah penyebaran
agama Islam menjadi tiga wilayah. Di wilayah Gowa dan Tallo, penyiar
yang ditugaskan adalah Abdul Makmur. Di wilayah Luwu, yang diperintahkan
untuk menyiarkan ajaran Islam adalah Suleiman. Untuk wilayah
Bulukumba, Nurdin Ariyani yang ditugaskan untuk bersyiar.
Sistem Kepercayaan To Lotang
Selain
Islam, kepercayaan suku Bugis lainnya adalah sistem kepercayaan To
Lotang. Sistem kepercayaan To Lotang memiliki penganut sebanyak 15 ribu
jiwa. Masyarakat yang menganut sistem kepercayaan To Lotang tinggal di
wilayah Amparita, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidenreng Rappang.
Sistem
kepercayaan To Lotang didirikan oleh La Panaungi. Kepercayaan ini ada
karena pendirinya mendapatkan ilham dari Sawerigading. Sawerigading
adalah jenis kepercayaan yang memuja Dewata SawwaE.
Kitab suci
bagi penganut sistem kepercayaan ini adalah La Galigo. Isi yang
terkandung dalam kitab tersebut diamalkan turun-menurun secara lisan
dari seorang uwak atau tokoh agama kepada para pengikutnya.
Sistem
kepercayaan ini memiliki tujuh orang tokoh agama, yang diketuai oleh
seorang Uwak Battoa. Sementara itu, tokoh agama yang lain mengurusi
hal-hal mengenai masalah sosial, usaha tanam, dan penyelenggaraan
upacara ritual.
To Lotang menurut bahasa Bugis artinya adalah
'orang selatan'. Zaman dulu, masyarakat ini sering mengungsi dari satu
daerah ke daerah lain di Sulawesi Selatan. Setelah berkali-kali
mengungsi, pada 1609, masyarakat dengan sistem kepercayaan ini menetap
di Amparita berkat perintah dari Raja Sidendreng.
Suku Bugis
memiliki beberapa kerajaan, di antaranya Kerajaan Wajo, Kerajaan
Soppeng, Kerajaan Makassar, dan Kerajaan Bone. Kerajaan yang terdapat di
sekitar suku Bugis sering mengalami konflik. Biasanya, konflik di
antara mereka terjadi akibat perebutan daerah kekuasaan.
_______________________
Telah
dibahas dalam artikel yang lalu bahwa suku Bugis adalah suku yang
mendiami daerah Sulawesi Selatan. Namun karena akar suku Bugis adalah
Melayu dan Minangkabau, maka kegiatan merantau tidak dapat dipisahkan
dari suku ini. Maka tidak heran jika suku Bugis tersebar di berbagai
wilayah di Nusantara ini. Menurut sensus penduduk pada tahun 2000,
masyarakat Bugis jumlahnya mencapai enam juta jiwa. Suku Bugis yang ada
di Indonesia mayorita mendiami Sulawesi Selatan, yang mencakup
kabupaten Luwu, Bone, Wajo, Barru, Pinrang dan Sidrap.
kepercayaan masyarakat Bugis
Selain
memiliki adat istiadat masa lalu yang erat kaitannya dengan animisme
dan dinamisme atau penyembahan roh dan berhala, namun ada juga sistem
kepercayaan masyarakat Bugis. Pada umumnya sistem kepercayaan suku Bugis
terbagi menjadi dua, yakni sistem kepercayaan To Lotang dan Agama
Islam. Kami akan membahas keduanya satu persatu. Sistem Kepercayaan To Lotang
To
Lotang dalam bahasa Bugis artinya “orang selatan”. Kepercayaan To
Lotang adalah kepercayaan yang menyembah Dewata SawwaE sebagai Tuhan.
Kepercayaan ini ada dikarenakan pendirinya mendapatkan ilham dari
Sawerigading. Sawerigading inilah yang pertama kali memuja Dewata
SawwaE. Sistem kepercayaan ini memiliki penganut kurang lebih 15 ribu
jiwa. Persebaran masyarakat yang menganut sistem kepercayaan ini ada di
wilayah Amparita, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sindendreng
Rappang.
Kepercayaan ini memiiki sebuah kita suci yang diberi
nama La Galigo. Isi yang ada dalam kitab ini diamalkan secara turun
temurun dan ditularkan secara lisan oleh uwak atau tokoh agama kepada
para pengikutnya. Dalam sistem kepercayaan ini ada tujuh tokoh agama
yang diketuai oleh soerang Uwak Battoa. Dari tujuh tokoh agama
tersebut, enam tokoh diantaranya mengurusi permasalahan seperti masalah
sosial, usaha tanam dan penyelenggaraan ritual kepercayaan. Pada zaman
dulu, masyarakat ini sering mengungsi ke daerah lain di Sumatera
Selatan, namun pada tahun 1609, masyarakat ini diberikan tempat oleh
Rja Sindendreng di Amparita hingga saat ini. Agama Islam dalam masyarakat Bugis
Agama
yang dianut oleh mayoritas masyarakat Bugis sejak abad ke-17 adalah
Islam. Adalah masyarakat Minangkabau yang membawa Islam ke tanah Bugis,
utamanya pada da’i dari daerah Sumatera Barat. Pesyiar atau para da’i
membagi wilayah penyebaran Islam dalam tiga wilayah yang berbeda. Ada
Abdul Makmur yang ditugaskan untuk menyiarkan Agama Islam di tanah Gowa
dan Tallo. Suleiman diperintah untuk mengajarkan Islam di daerah Luwu,
sedangkan untuk daerah Bulukumba, Nurdin Ariyani terpilih untuk
bersyiar disana.
Pada masa itu suku Bugis memiliki banyak
kerajaan, diantaranya Wajo, Soppeng, Makassar dan Bone. Hal ini
mengakibatkan seringnya terjadi konflik di masa lalu yang umumnya
dipicu oleh perebutan daerah kekuasaan dan sumber daya alam. Pada masa
itu Islam datang yang memicu kebesaran kerajaan Gowa dan Tallo untuk
menyingkirkan konflik yang ada. Kerajaan inilah yang menghasilkan
pahlawan terkenal, Sultan Hasanudin.
_____________________________ Kepercayaan Masyarakat Bugis Terhadap Sawerigading
Dengan
adanya kisah yang unik mengenai Sawerigading, maka muncullah berbagai
kepercayaan bagi masyarakat Bugis, khususnya yang berkenaan dengan
aspek religius. Menurut kepercayaan sebagian masyarakat Bugis,
Sawerigading memiliki kekuatan supranatural, karena ia merupakan
keturunan dewa (to manurung). Bahkan ada yang menganggapnya sebagai Nabi
yang diturunkan ke bumi. Dari kisah perjalanan Sawerigading ke
berbagai negara, muncul anggapan bahwa ia pernah bertemu dengan Nabi
Muhammad. Dalam pertemuannya itu, ia sempat melakukan diskusi dan
mengadakan adu ketangkasan. Dalam adu ketangkasan itu, sempat draw
(seri) sebanyak dua kali, dan barulah pada pertandingan terakhir,
Sawerigading mengakui kehebatan Nabi Muhammad. Menurut kepercayaan
tersebut, Sawerigading mempunyai ajaran yang mirip dengan ajaran Islam,
yaitu salat dan naik haji. Perbedaannya hanya dari segi pelaksanaannya,
yaitu salatnya hanya melalui batinnya. Selain itu, Sawerigading
menganjurkan anak cucunya untuk mengunjungi Mekah, karena di sisi Ka’bah
terdapat nama Sawerigading. Bahkan ada paham yang berkembang bahwa
mengunjungi puncak gunung Pensemeuni, di tepi Sungai Cerekang (Malili),
sama halnya dengan menunaikan ibadah haji. Sebab, di tempat itulah
turunnya Batara Guru ke dunia. Yang lebih unik lagi adalah
kepercayaan masyarakat Towani-Tolotang yang ada di Kabupaten Sidrap.
Mereka beranggapan bahwa Sawerigading kembali ke Mekah dan mendampingi
Nabi Muhammad dalam setiap pertempuran. Di tangan Sawerigading terdapat
satu juz al-Quran, yang belum ikut terkodifikasikan bersama 30 juz
lainnya. Karenanya, mereka tidak mengakui keberadaan al-Quran mushaf
Usmani, karena belum lengkap. Sampai sekarang, mereka tetap menunggu
kedatangan Sawerigading untuk membawa 1 juz al-Quran itu kepadanya. Referensi Makalah® Kepustakaan: Sarita
Pawiloi, Sejarah Pendidikan di Sulawesi Selatan, Jakarta : IDKD
Depdikbud, 1982. H.D.Mangemba, Sawerigading ke Cina, Ujungpandang :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Selatan, 1987. Sumange
Alam Tjahra, Beberapa Pandangan tentang Isi Sure’ I La Galigo,
Ujungpandang : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987
________________________________________
Kepercayaan Bugis, Makassar, Mandar. dan Toraja sebelum Islam
Sejak
dahulu, masyarakat Sulawesi Selatan telah memiliki aturan tata hidup.
Aturan tata hidup tersebut berkenaan dengan, sistem pemerintahan,
sistem kemasyarakatan dan sistem kepecayaan. Orang Bugis menyebut
keseluruhan sistem tersebut Pangngadereng, orang Makassar Pangadakang,
Orang Luwu menyebutnya Pangngadaran, Orang Toraja Aluk To Dolo dan
Orang Mandar Ada’. Dalam hal kepercayaan penduduk Sulawesi Selatan
telah percaya kepada satu Dewa yang tunggal. Dewa yang tunggal itu
disebut dengan istilah Dewata SeuwaE (dewa yang tunggal). Terkadang
pula disebut oleh orang Bugis dengan istilah PatotoE (dewa yang
menentukan nasib). Orang Makassar sering menyebutnya dengan Turei
A’rana (kehendak yang tinggi). Orang Mandar Puang Mase (yang maha
kedendak) dan orang Toraja menyebutnya Puang Matua (Tuhan yang maha
mulia). Mereka pula mempercayai adanya dewa yang bertahta di
tempat-tempat tertentu. Seperti kepercayaan mereka tentang dewa yang
berdiam di Gunung Latimojong. Dewa tersebut mereka sebut dengan nama
Dewata Mattanrue. Dihikayatkan bahwa dewa tersebut kawin dengan
Enyi’li’timo’ kemudian melahirkan PatotoE. Dewa PatotoE kemudian kawin
dengan Palingo dan melahirkan Batara Guru. Batara Guru dipercaya
oleh sebagian masyarakat Sulawesi Selatan sebagai dewa penjajah. Ia
telah menjelajahi seluruh kawasan Asia dan bermarkas di puncak
Himalaya. Kira-kira satu abad sebelum Masehi Batara Guru menuju ke
Cerekang Malili dan membawa empat kasta. Keempat kasta tersebut adalah
kasta Puang, kasta Pampawa Opu, kasta Attana Lang, dan kasta orang
kebanyakan. Selian itu Batara Guru juga dipercaya membawa enam macam
bahasa. Keenam bahasa tersebut dipergunakan di daerah-daerah
jajahannya. Keenam bahasa itu adalah: a. Bahasa TaE atau To’da.
Bahasa ini dipergunakan masyarakat yang bermukim di wilayah Tana Toraja ,
Massenrengpulu dan sekitarnya. Mereka dibekali dengan kesenian yang
bernama Gellu’. b. Bahasa Bare’E. Bahasa ini dipergunakan oleh
masyarakat yang bermukim di wilayah Poso Sulawesi Tengah. Mereka
dibekali dengan kesenian yang disebutnya Menari. c. Bahasa Mengkokak,
bahasa ini dipergunakan oleh masyarakat yang bermukim di wilayah
Kolaka dan Kendari Sulawesi Tenggara. Mereka pula dibekali dengan
kesenian, yang namanya Lulo’. d. Bahasa Bugisi. Bahasa ini
dipergunakan oleh masyarakat yang bermukim di Wajo seluruh daerah
disekitarnya dan dibekali dengan kesenian Pajjaga. e. Bahasa Mandar.
Bahasa ini dipergunakakan oleh masyarakat yang berdiam di wilayah
Mandar dan sekitarnya. Mereka dibekai dengan kesenian Pattundu. f.
Bahasa Tona. Bahasa ini dipergunakan oleh masyarakat yang bermukim di
wilayah Makassar dan sekitarnya. Mereka dibekali dengan kesenian dan
sebutnya Pakkarena. Keturunan Batara Guru tersebar ke mana-mana.
Keturunannya terbagi-bagi pada seluruh wilayah jelajahnya yang meliputi
wilayah bahasa tersebut diatas. Mereka menduduki tempat-tempat yang
strategis seperti puncak-puncak gunung. Beberapa gunung yang mereka
jadikan tempat strategis adalah sebagai berikut: a. Dipuncak Gunung
Latimojong. Mereka menyebut Puang ri Latimojong dengan gelar Puang
Ma’tinduk Gallang, Puang Ma’taro Bessi, Dewata Kalandona Buntu, Puang
Lajukna Tanete. b. Dipuncak Gunung Nonaji. Mereka mengelari Puang ri
Sinaji dengan Dewata Mararang Ulunna, Maea Pa’barusunna, Borrong
Lise’matanna. c. Di puncak Gunung A’do, dengan nama Puang Tontoria’do’. d. Di tasik Mengkombong dengan nama Londong di Langi e. Di Napo’ (Dende’) dinamakan Datue ri Naopo. Dengan
pengawasan Batara Guru melalui puncak gunung yang tinggi, ia melantik
anak-anak keturunannya untuk menjadi raja di tiga kerajaan besar.
Ketiga kerajaan yang dimaksud adalah Pajung di Luwu, Somba di Gowa dan
Mangkau di Bone. Kemudian disusul dengan kerajaan-kerajaan bagian,
seperti Addatuang Sidenreng, Datu Soppeng, Arung Matoa Wajo, Arajang di
Mandar, Puang di Tana Toraja dan sebagainya. Kepemimpinan dari
raja-raja ini dimotori oleh kharisma dan kesaktian dewa-dewa yang
menguasai puncak ketinggian di Sulawesi Selatan. Di antara
kepercayaan sebagian penduduk Sulawesi Selatan adalah Aluk To Dolo oleh
orang Toraja. Sebelum masuknya agama Islam sebagian penduduk Sulawesi
Selatan telah mempercayai terhadap sesuatu yang Maha Pencipta, pengatur
segenap alam. Mereka menyebutnya dengan “Puang Matua”. Pemimpin Aluk
To Dolo disebut Burako memimpin dua aluk yaitu Aluk Mata Allo dan Aluk
Mata Ampu. Kedua aluk tersebut merupakan cara pengaturan jagad raya.
Aluk Mata Allo dianut oleh penduduk Tana Toraja bagian Timur dengan
tatacara upacara keagamaan dan kemasyarakatan bercorak aristokratis.
Sedangkan Aluk Mata Ampu dianut oleh masyarakat Tana Toraja bagian
Barat dengan tata upacara keagamaan kemasyarkatan yang bercorak
kerakyatan. Pelaksanaan aluk-aluk tersebut yang mengilhami kebudayaan
masyarakat Tana Toraja dalam aspek rohaniah, fisik dan tingkah lakunya. Pada
zaman dahulu, masyarakat Tana Toraja mengenal empat puluh persekutuan
adat yang dikenal dengan “Arruan Patampulo”. Keempat puluh persekutuan
tersebut tergabung dalam daerah persekutuan yang disebut dengan
“Lampangan Bulan” . Wilayahnya adalah meliputi Tana Toraja dan
sekitarnya. Menurut Dr. Noorduyn bahwa persekutuan inilah yang
merupakan masyarakat asli Sulawesi Selatan. Keberadaan mendahului
priode Galigo dan priode Lontara yang mengadabtasi berbagai unsur
kepercayaan dan kebudayan dari luar Sulawesi Selatan. Kepercayaan Aluk
To Dolo masih dipercayai oleh banyak orang Toraja dewasa ini dengan
bentuk-bentuk persekutuan kaum dalam lingkup-lingkup keluarga yang
disebut Tongkonan. Ciri khas kepercayaannya yang dianut sejak dulu
masih eksis dalam prilaku keagamaan dan adat masyarakat Toraja saat
ini. Misteri makna dari sistem kepercayaan itu sampai saat ini belum
diungkap secara memuaskan. Dari hasil pengamatan sementara, dapat
dikatakan bahwa ketuhanan Aluk To Dolo bersifat monoteistik dan tidak
mengenal hirach dewa-dewa. Puan Matua sebagai pencipta segala sesuatu,
memberi berbagai aluk untuk tata tertib dalam kehidupan dunia. Puan
Matua itu sendiri dapat dipahami penyataannya melalui penyelenggaraan
berbagai macam upacara aluk yang dilakukan oleh orang-orang yang masih
hidup dalam rangka hubungan yang tetap dengan dunia roh-roh yang
terdapat dalam dunia ini. (Noorduyn, 1964). Sisa-sisa kepercayaan
yang mirip dengan kepercayaan Aluk To Dolo masih terdapat diberbagai
tempat di daerah Sulawesi Selatan. Hal itu dapat tampak dengan jelas di
Tana Toa Kajang (Kabupaten Bulukumba) dan di Onto, pegunungan
terpencil di Camba dan Barru. Kepercayaan mereka dikenal oleh
masyarakat luar dengan agama Patuntung. Agama Patuntung mempercayai
adanya sesuatu yang Maha Kuasa, MahaTunggal dengan berbagai nama. Ada
yang menamakannya Turia a’rana (yang berkehendak) dan sebagainya. Agama
Patuntung dipercayai oleh persekutuan dan dipimpin oleh seorang yang
mereka telah mendapat petunjuk dari Yang Maha Kuasa dengan tanda-tanda
tentang adanya sesuatu kelebihan di dalam kehidupannya. Oleh karena itu,
Dia dipilih untuk memimpin kaum dan sekaligus menjadi pemimpin agama.
Kaum menghormatinya sebagai makhluk yang suci ditaati segala
kehendaknya. Saat ini penganut agama Patuntung sudah mendapat
pengaruh dari luar. Penganut agama Patuntung yang dikenal sejak dahulu
lebih memilih hidup memencilkan diri di daerah-daerah yang sukar
dikunjungi oleh orang luar. Namun saat ini kebudayaan dari luar juga
sempat mempengaruhi kebudayaan mereka. Hal ini dapat dilihat pada
penyataan-pernyataan ritual mereka yang tergambar keadaan sikritisme.
Tampak dalam unsur kepercayaannya telah dipengaruhi oleh kepercayaan
yang mirip dengan kepercayaan agama Budha dan Islam. Pada umumnya agama
Patuntung berpakaian yang berwarna gelap yaitu hitam atau biru tua. Selain
kepercayaan Aluk To Dolo masih terdapat kepercayaan yang dianut oleh
sebagian masyarakat Sulawesi Selatan, yaitu agama Towani Tolotang. Agama
Towani Tolotang dianut oleh sebagian masyarakat Sindenreng Rappang,
terutama di beberapa bagian pedalaman. Agama tersebut merupakan suatu
kepercayaan yang mempercayai adanya kekuasaan alam yang tinggi yang
mereka namai To PalanroE (orang yang mencipta), Dewa SeuwaE (Dewa yang
tunggal). Dalam perurutan nama-nama yang mengandung aspek-aspek kedewaan
terdapat nama Batara Guru, Sawerigading, Galigo dan sebagainya. Mereka
mempercayai sebuah kitab suci, namanya Mitologi Galigo. Mereka
menganggap ajaran dalam kitab ini sebagai jalan kebenaran yang tinggi,
dan disitulah mereka mengambil pedoman tentang tata cara hidup
kemasyarakatan seperti perkawinan di antara mereka, termasuk upacara
dalam hidup keagamaan mereka lakukan dengan sangat ketat. Pada zaman
dahulu orang Bugis tidak menguburkan mayat mereka, akan tetapi dibakar
dan hasil pembakarannya dimasukkan ke dalam guci. Tentang pembakarannya
mayat tersebut ada hubungannya dengan kepercayaan agama Tolotang atau
Toani yang diduga asalnya dari Ware Luku sebagai tempat asal Mitologi
Galigo. Abu Hamid, 1982, Selayang Pandang, Uraian Tentang Islam dan
Kebudayaan (dalam buku Bugis Makassar Dalam Peta Islamisasi Indoensia),
Ujung Pandang, IAIN. Abd. Kadir Ahmad, 2004, Masuknya Islam di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Ternggara, Makassar, Balai Litbang Agama Makassar. Mattuladda, 1974. Bugis Makassar, Manusia dan Kebudayaan. Makassar. Berita Antropologi No. 16 Fakultas Sastra UNHAS. ------------, 1975. Latoa, Suatu Lukisan Analitis Antropologi Politik Orang Bugis., Makassar: Disertasi.
|